Minggu pagi tepatya pukul 04.00 wib, telp selulerku berdering dengan rasa kantuk yang begitu berat aku berusaha menggapai seluler yang terletak dimeja samping tempat tidur, dalam hatiku berkata siapa lagi yang telp sepagi ini, tapi apa mungkin ini ada berita duka atau ada telp orang iseng atau juga ada teman yang kerjanya pulang pagi berurusan dengan Polisi dan butuh pertolongan, setelah telp kuraih danku lihat namanya tdk tercatat di telp selulerku, agak berat dengan suara datar ku katakana Hallo….dilawan bicaraku terdengar suara yang juga sedikit berat seperti suara orang tua, tapi nadanya begitu semangat dan dikatakannya, pak Safwan…… ini aku Romo, lalu kujawab ya ada apa Mo panggilan akrabnya, dengan semangat Romo mengatakan, tunggu saya pagi ini ya, saya dari lubuk pakam naik sepeda menuju rumah pak safwan nanti kita jalan bareng, dalam hati aku merasa geli orang tua yang satu ini begitu bersemangatnya dalam bersepeda sampai sampai jam 4 pagi telp,….kemudianku katakan ya ya..kami tunggu,…. jawabnya udah ya…..lalu kukatakan ya ya, dan telp mati, tapi setelahku merenung, Lubuk Pakam……oh jauhnya, apa sanggup Romo itu, dengan usia sudah 70 tahun mengayuh sepeda dari Lubuk Pakam….?
Pagi itu aku sudah tidak dapat tidur lagi, kemudian aku mulai menyetel pesawat TV untuk lebih menyengarkan pikiran ini sambil bangun dan mulai menyiapkan sepeda yang akanku pergunakan nanti, setelahku pilih sepeda merk Gazele dan mulaiku lap sepeda biar kelihatan sedikit Kinclong, dan juga kubawa beberapa kunci untuk perlengkapan sepeda nantinya dijalan siapa tau ada gangguan, setelah itu tas sepeda jugaku isi dengan satu botol air mineral, setelah sepeda aku siapkan, ternyata anak dan istriku juga bangun karena mendengar suara brisikku mengelap sepeda, istriku bertanya ada apa sepagi ini menyiapkan sepeda, laluku katakan, tadi Romo dari lubuk Pakam telp di mintanya kita jangan berangkat diluan, oh jawab istriku,….tapi sepeda kami juga disiapkan la….sambil melempar senyumnya yang khas padaku, laluku jawab ya jangan takut boss kita siapkan, tapi siapa saja yang ikut tanyaku,…dan istriku menjawab ya semuanya ….laluku siapkan juga sepeda untuk anak anaku dan istriku, setelah Gazele selesaiku lap, lalu kusiapkan lagi sepeda Reliqht jantan dan betina untuk anak dan istriku, sedang istriku menyiapkan sarapan pagi untuk kami berupa teh manis dan beberapa potong roti yang memang telah ia siapkan tadi malam, selesai mandi dan sholat subuh, sepeda kukeluarkan dari rumah danku letakan dihalaman rumah satu persatu, yang jumlah sepeda tersebut ada 5 buah, sambil menunggu Romo yang akan datang dari Lubuk Pakam, tepat pukul 06.30 wib Romo tiba dirumah dengan pakaian khasnya Topi Demang mengunakan baju stelan Belanda celana pendek krim tak lupa ia kenakan kaca mata khasnya, setelah sampai di rumah kami suguhkan minuman dan makanan ringan ala kadarnya kepada Romo, sambil menunggu teman teman dari DESA (Deli sepeda antiq) yang sudah bergerak dari pasar 10 Tembung menuju lapangan Merdeka, dan nantinya akan melintas di depan rumahku, tepatnya pukul 06.45 wib rombongan DESA tiba didepan rumahku bersama rombongan berjumlah 20 orang yang dipimpin oleh Nizam sebagai ketua Rombongan , kemudian melanjutkan perjalanan menuju lapangan Merdeka Medan untuk bergabung bersama teman teman yang lain, kalau kami berkumpul dilapangan Merdeka bisa mencapai sampai lebih dari 150 orang pengemar yang terdiri dari kaum ibu dan bapaknya, yang namanya berkumpul pasti ramai ceritanya dan yang pasti tetntang perburuan barang barang sepeda antiq pokoknya seru sekali bahkan ada yang tukaran barang pernak pernik hiasan sepeda, seperti lampu dan kelengkapan lainya. Tepat pukul 07.30 wib biasanya saya sering mengkomandai teman teman untuk keliling kota Medan sambil singgah di gedung gedung bersejarah dan berfoto sejenak untuk melengkapi dokumen Ontel kami.
Mengais sepeda Ontel memiliki kepuasan tersendiri. Selain manfaat yang diberikan seperti baik untuk kesehatan, tidak berpolusi dan hemat energi, bersepeda berarti melestarikan warisan leluhur. Di Indonesia, sepeda banyak dipengaruhi oleh kaum penjajah, terutama Belanda. Mereka memboyong sepeda produksi negerinya untuk dipakai berkeliling. Kebiasaan tersebut menular pada kaum pribumi berdarah biru. Beragam sebutan diberikan untuk sepeda lawas tersebut seperti onthel, jengki, kumbang dan sundung. Kalau jengki itu berasal dari bahasa betawi, jingke atau berjinjit artinya pada saat menaiki sepeda tersebut kita harus berjinjit saking tingginya. Kalau ontel artinya di ontel atau di kayuh. Meski popularitas sepeda mulai hilang tergilas keberadaan sepeda motor dan kendaraan beroda 4, Aku yakin sepeda akan selalu eksis bahkan dapat dijadikan alat transportasi alternatif non polutan, setiap jum,at saya selalu naik sepeda Ontel ke Kantor saya ,dan sepeda Ontel cocok dipergunakan bukan hanya di Medan tetapi kota besar seperti Jakarta dan sebagai kenderaan alternatif .(Safwan Khayat).
Senin, 08 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar