Oleh,
Drs SAFWAN KHAYAT MHum
Bakri Abdullah, itulah nama lengkap seorang bapak berusia 86 tahun pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) yang ditugaskan menjadi guru di salah satu sekolah SMP Negri di kota Medan. Orang-orang kerap memanggilnya dengan sapaan pak Bakri atau pak sepeda. Sapaan itu baginya sama saja, sebab jika salah satu dari sapaan itu terucap dari bibir seseorang, beliau selalu menyambutnya dengan senyuman yang ramah.
Sapaan itu sudah bertahun-tahun akrab ditelinganya. Tak sedikit pun ia ragu untuk memberikan balasan atas sapaan itu. Ia disapa pak Bakri karena memang namanya Bakri Abdullah. Anehnya, ia disapa pak sepeda karena ketika masih bertugas, ia acap mengendarai sepeda tua made in Eropa bermerk Gazele. Sepeda tua itu cukup unik, historikal, elegan, kuat dan ringan di kayuh. Seluruh onderdilnya masih orisinil, kinclong, bersih dan terawat.
Menurut penjelasan beliau, sepedanya ini punya sejarah yang manis ketika ia mendapatinya. 70 tahun yang silam, ketika ia masih berusia 16 tahun, ia tertarik dengan gadis cantik berdarah peranakan suku Jawa tak jauh dari rumahnya. Gadis ini anak seorang Administrateur di perusahaan perkebunan yang hidupnya lumayan berkecukupun. Bakri sendiri terlahir dari keluarga petani sayur dengan modal hidup pas-pasan. Untuk mendapatkan gadis itu, dalam khayalan Bakri tidak mungkin sebab ia sadar strata hidup dirinya. Paling tidak, ia harus punya pekerjaan yang tetap dengan penghasilan yang bisa menopang ekonomi keluarga yang baik.
Waktu itu beliau sendiri masih berstatus guru honor dengan gaji dibawah dari cukup. Namun begitu, lumayan juga hasil gaji yang ia peroleh tidak mengurangi beban tanggungan kedua orang tuanya.
Setiap pagi hendak mengajar ke sekolah, Bakri acap pula bertemu gadis manis pujaanya. Ia bertugas hanya berjalan kaki dengan melalui jalan di depan rumah si gadis itu. Setiap pagi pula gadis itu pasti menyapu halaman rumahnya. Walau sering bertemu, ia tetap tak punya nyali menegur gadis itu, sebab ia takut kalau-kalau gadis itu menolak dan marah. Kalau pun ia berani, Bakri hanya memberanikan tersenyum sambil sedikit menundukkan kepala sebagai sikap penghormatan kepada gadis itu. Nyatanya, gadis itu malah membalas dengan senyuman. Tak ada kata yang terucap dan tak ada tegur sapa yang terurai. Berhari-hari, berminggu dan berbulan mereka berdua bertemu hanya cukup senyum dan menundukkan kepala.
Anehnya suatu hari, Bakri tidak bertemu gadis pujaannya itu. Hatinya sedikit kecewa sebab tak melihat gadis pujaannya. Sialnya, hampir seminggu ia tak melihat gadis itu. Beliau pun ingin cari tahu keberadaan gadis itu. Tepat hari Minggu kebetulan hari libur, ia beranikan diri untuk menanyakan gadis itu. Ia hampiri tetangga gadis itu, seorang ibu separuh baya yang sedang memberi makan anaknya sekitar usia 4 tahun di halaman rumahnya.
Maaf bu? Gadis itu ada di rumahnya ? tanya Bakri. Gadis yang mana ya ? jawab si Ibu. Itu lho bu, yang setiap pagi menyapu halaman rumahnya ? tanya Bakri lagi. Oh si Wulan itu ? terang si Ibu. Wulandari ya namanya bu ? tanya Bakri terus. Ya, namanya Wulandari anak semata wayang pak Kardi Kasim, jelas si Ibu.
Sudah 6 bulan Bakri melihat gadis itu, baru kali ini ia tahu nama gadis itu namanya Wulandari.
Sri sudah seminggu ini sakit, badannya panas tinggi, terang si Ibu dengan gamblang. Apa, sakiiit ? kaget Bakri sambil matanya terbelalak. Ada apa ya ? tanya si Ibu kembali. Ah nggak bu, saya ingin tahu saja, jawab Bakri gugup.
Akhirnya Bakri pamit pulang dengan si Ibu tadi. Waktu yang ia lalui terus membuat hidupnya tak tenang. Konsentrasi mengajarnya terkadang buyar, sebab ia terus memikirkan kesehatan gadis pujaannya Wulandari. Kali ini, sudah hari ke-10 ia tak bertemu Wulandari. Hati terus gundah tentang perkembangan kesehatan Wulandari.
Pulang mengajar, ia bertekad menghampiri rumah gadis itu dan memberanikan diri untuk bertanya. Bakri tepat berdiri di depan rumah berpagar kayu, cat dinding berwarna putih-hijau dan halaman yang mulai kotor persis 10 hari tak disentuh oleh tangan Wulandari. Dengan perasaan harap dan cemas, ia ketuk pintu rumah itu sebanyak 3 kali sambil berucap salam. Hitungan detik saja, ada suara yang menyahut dari dalam dan pintu terbuka.
Bakri spontan gemetar, keringat mengucur deras, suara berat dan grogi tak ketulungan. Seorang gadis manis memakai daster putih bercorak bunga berdiri tepat dihadapannya. Sorotan matanya tajam sambil senyuman tipis tersingkap di balik bibirnya yang tipis. Bakri hanya diam berdiri tegak dan kaku bagai patung tak bergeming.
Ada apa Mas ? tanya Wulan. Ah nggak, jawab gugup Bakri. Masuk Mas ? sambut Wulan. Terimakasih, duduk di sini saja bolehkan ? tunjuk Bakri pada kursi teras rumah Wulan. Ya sudah silahkan, sambut Wulan lagi.
Mereka ngobrol di teras itu seakan sudah lama mengenal. Wulandari sebelumnya sudah tahu nama Bakri, sebab salah seorang anak dari sepupunya murid Bakri. Wulandari menjelaskan pertanyaan Bakri tentang 10 hari belakangan ini, dan diakuinya bahwa ia sakit. Tapi syukurlah, kondisinya sudah membaik hanya tinggal pemulihan sedikit saja.
Sejak itu, Bakri kegetolan datang ke rumah Wulandari. Dua minggu sekali Bakri pasti singgah ke rumah itu. Melihat gelagat Bakri yang kerap berkunjung, Kardi Kasim ayah Wulandari mulai menegur Bakri. Bakri gugup dan takut dengan sikap ayah Wulan yang terus mencercar pertanyaan pada dirinya. Tapi karena tekadnya kuat, ia jawab dengan santun, ramah dan rendah hati setiap butir pertanyaan ayah Wulan.
Ketika ia ditanya soal pekerjaan, keringatnya mengucur deras. Sebab, ia sadar penghasilannya jauh dari cukup. Saya guru pak ? jawab Bakri. Kamu mengajar naik apa ? tanya ayah Wulan. Jalan kaki pak ? jawab Bakri sambil kepala menunduk lesu.
Begini nak Bakri, jelas ayah Wulan sambil matanya menyorot tajam Bakri. Ayah Wulan mulai bercerita panjang tentang Wulan dan hubungan kami berdua. Bakri hanya diam mendengar saja celotehan ayah Wulan. Dari hasil keterangan itu, Bakri menyimpulkan bahwa Wulan fisiknya lemah dan tidak bisa capek. Jika keletihan bekerja, pasti Wulan sakit demam panas tinggi.
Bakri memahami dan menyanggupi keinginan ayah Wulan. Bakri sudah bertekad, Wulan harus ia miliki walau apapun kekurangannya. Tapi yang membuat Bakri risau, ayah Wulan memberikan 1 syarat jika ia ingin menyunting Wulandari. Bakri harus punya sepeda agar memudah Wulan untuk menuju suatu tempat. Sebab jika berjalan kaki, Wulan pasti keletihan dan jatuh sakit.
Dengan gaji yang pas-pasan, Bakri yakin dirinya tak bisa membeli sepeda. Lima tahun pun ia menabung, juga tak cukup membeli sepeda. Hancurlah dirinya jika tak bisa memenuhi keinginan ayah Wulan.
Wulandari juga menyadari, Bakri tak akan mampu memenuhi keinginan ayahnya. Diam-diam, Wulan bantu Bakri membeli sepeda dari hasil uang jajan yang diberikan ayahnya selama ini. Begitu pula, kedua orang tua Bakri, ikut menyisihkan hasil panen sayurnya untuk menambah uang membeli sepeda. Alhasil, sepeda itu terbeli berkat pengorbanan Wulan dan orang tua Bakri sendiri.
Akhirnya Wulan resmi menjadi isteri Bakri hingga mereka dikarunia anak 1 orang. Namun sayangnya, Wulan lebih dahulu di kembali pada Sang Pencipta ketika melahirkan anaknya yang pertama. Ketika proses persalinan, Wulan mengalami pendarahan yang banyak. Fisiknya yang lemah tak membantu perjuangannya melawan maut. Wulan meninggalkan Bakri dan anaknya untuk selamanya.
Sejak kepergian Wulan, Bakri terus menangis. Tak sempat ia membahagiakan Wulan yang telah banyak berkorban. Ia pertaruhkan harta dan nyawa demi untuk dirinya. Bakri berjanji tak akan menggantikan Wulan dengan orang lain di hatinya. Ia akan asuh seorang anaknya dan sepeda yang sangat bernilai di hatinya. Sampai saat ini, anaknya itu menjadi dosen salah satu perguruan tinggi. Sepeda tuanya merek Gazele itu sampai kini masih ia rawat seperti ia merawat Wulan kekasih hatinya. Kemana-mana ia bawa sepeda itu, seakan-akan ia berjalan bersama Wulan. Itulah sebabnya ia disapa dengan pak Sepeda, sebab ia merasa ia tidak bisa dipisahkan dengan sepeda tuanya.
*Penulis, Alumnus SMA Negeri 1 Medan, Alumnus dan Dosen UMA, Alumnus Pascasarjana USU Medan.
Jumat, 12 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar