Jumat, 12 Maret 2010
Bakri, Pak Sepeda Ontel Tua
Drs SAFWAN KHAYAT MHum
Bakri Abdullah, itulah nama lengkap seorang bapak berusia 86 tahun pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) yang ditugaskan menjadi guru di salah satu sekolah SMP Negri di kota Medan. Orang-orang kerap memanggilnya dengan sapaan pak Bakri atau pak sepeda. Sapaan itu baginya sama saja, sebab jika salah satu dari sapaan itu terucap dari bibir seseorang, beliau selalu menyambutnya dengan senyuman yang ramah.
Sapaan itu sudah bertahun-tahun akrab ditelinganya. Tak sedikit pun ia ragu untuk memberikan balasan atas sapaan itu. Ia disapa pak Bakri karena memang namanya Bakri Abdullah. Anehnya, ia disapa pak sepeda karena ketika masih bertugas, ia acap mengendarai sepeda tua made in Eropa bermerk Gazele. Sepeda tua itu cukup unik, historikal, elegan, kuat dan ringan di kayuh. Seluruh onderdilnya masih orisinil, kinclong, bersih dan terawat.
Menurut penjelasan beliau, sepedanya ini punya sejarah yang manis ketika ia mendapatinya. 70 tahun yang silam, ketika ia masih berusia 16 tahun, ia tertarik dengan gadis cantik berdarah peranakan suku Jawa tak jauh dari rumahnya. Gadis ini anak seorang Administrateur di perusahaan perkebunan yang hidupnya lumayan berkecukupun. Bakri sendiri terlahir dari keluarga petani sayur dengan modal hidup pas-pasan. Untuk mendapatkan gadis itu, dalam khayalan Bakri tidak mungkin sebab ia sadar strata hidup dirinya. Paling tidak, ia harus punya pekerjaan yang tetap dengan penghasilan yang bisa menopang ekonomi keluarga yang baik.
Waktu itu beliau sendiri masih berstatus guru honor dengan gaji dibawah dari cukup. Namun begitu, lumayan juga hasil gaji yang ia peroleh tidak mengurangi beban tanggungan kedua orang tuanya.
Setiap pagi hendak mengajar ke sekolah, Bakri acap pula bertemu gadis manis pujaanya. Ia bertugas hanya berjalan kaki dengan melalui jalan di depan rumah si gadis itu. Setiap pagi pula gadis itu pasti menyapu halaman rumahnya. Walau sering bertemu, ia tetap tak punya nyali menegur gadis itu, sebab ia takut kalau-kalau gadis itu menolak dan marah. Kalau pun ia berani, Bakri hanya memberanikan tersenyum sambil sedikit menundukkan kepala sebagai sikap penghormatan kepada gadis itu. Nyatanya, gadis itu malah membalas dengan senyuman. Tak ada kata yang terucap dan tak ada tegur sapa yang terurai. Berhari-hari, berminggu dan berbulan mereka berdua bertemu hanya cukup senyum dan menundukkan kepala.
Anehnya suatu hari, Bakri tidak bertemu gadis pujaannya itu. Hatinya sedikit kecewa sebab tak melihat gadis pujaannya. Sialnya, hampir seminggu ia tak melihat gadis itu. Beliau pun ingin cari tahu keberadaan gadis itu. Tepat hari Minggu kebetulan hari libur, ia beranikan diri untuk menanyakan gadis itu. Ia hampiri tetangga gadis itu, seorang ibu separuh baya yang sedang memberi makan anaknya sekitar usia 4 tahun di halaman rumahnya.
Maaf bu? Gadis itu ada di rumahnya ? tanya Bakri. Gadis yang mana ya ? jawab si Ibu. Itu lho bu, yang setiap pagi menyapu halaman rumahnya ? tanya Bakri lagi. Oh si Wulan itu ? terang si Ibu. Wulandari ya namanya bu ? tanya Bakri terus. Ya, namanya Wulandari anak semata wayang pak Kardi Kasim, jelas si Ibu.
Sudah 6 bulan Bakri melihat gadis itu, baru kali ini ia tahu nama gadis itu namanya Wulandari.
Sri sudah seminggu ini sakit, badannya panas tinggi, terang si Ibu dengan gamblang. Apa, sakiiit ? kaget Bakri sambil matanya terbelalak. Ada apa ya ? tanya si Ibu kembali. Ah nggak bu, saya ingin tahu saja, jawab Bakri gugup.
Akhirnya Bakri pamit pulang dengan si Ibu tadi. Waktu yang ia lalui terus membuat hidupnya tak tenang. Konsentrasi mengajarnya terkadang buyar, sebab ia terus memikirkan kesehatan gadis pujaannya Wulandari. Kali ini, sudah hari ke-10 ia tak bertemu Wulandari. Hati terus gundah tentang perkembangan kesehatan Wulandari.
Pulang mengajar, ia bertekad menghampiri rumah gadis itu dan memberanikan diri untuk bertanya. Bakri tepat berdiri di depan rumah berpagar kayu, cat dinding berwarna putih-hijau dan halaman yang mulai kotor persis 10 hari tak disentuh oleh tangan Wulandari. Dengan perasaan harap dan cemas, ia ketuk pintu rumah itu sebanyak 3 kali sambil berucap salam. Hitungan detik saja, ada suara yang menyahut dari dalam dan pintu terbuka.
Bakri spontan gemetar, keringat mengucur deras, suara berat dan grogi tak ketulungan. Seorang gadis manis memakai daster putih bercorak bunga berdiri tepat dihadapannya. Sorotan matanya tajam sambil senyuman tipis tersingkap di balik bibirnya yang tipis. Bakri hanya diam berdiri tegak dan kaku bagai patung tak bergeming.
Ada apa Mas ? tanya Wulan. Ah nggak, jawab gugup Bakri. Masuk Mas ? sambut Wulan. Terimakasih, duduk di sini saja bolehkan ? tunjuk Bakri pada kursi teras rumah Wulan. Ya sudah silahkan, sambut Wulan lagi.
Mereka ngobrol di teras itu seakan sudah lama mengenal. Wulandari sebelumnya sudah tahu nama Bakri, sebab salah seorang anak dari sepupunya murid Bakri. Wulandari menjelaskan pertanyaan Bakri tentang 10 hari belakangan ini, dan diakuinya bahwa ia sakit. Tapi syukurlah, kondisinya sudah membaik hanya tinggal pemulihan sedikit saja.
Sejak itu, Bakri kegetolan datang ke rumah Wulandari. Dua minggu sekali Bakri pasti singgah ke rumah itu. Melihat gelagat Bakri yang kerap berkunjung, Kardi Kasim ayah Wulandari mulai menegur Bakri. Bakri gugup dan takut dengan sikap ayah Wulan yang terus mencercar pertanyaan pada dirinya. Tapi karena tekadnya kuat, ia jawab dengan santun, ramah dan rendah hati setiap butir pertanyaan ayah Wulan.
Ketika ia ditanya soal pekerjaan, keringatnya mengucur deras. Sebab, ia sadar penghasilannya jauh dari cukup. Saya guru pak ? jawab Bakri. Kamu mengajar naik apa ? tanya ayah Wulan. Jalan kaki pak ? jawab Bakri sambil kepala menunduk lesu.
Begini nak Bakri, jelas ayah Wulan sambil matanya menyorot tajam Bakri. Ayah Wulan mulai bercerita panjang tentang Wulan dan hubungan kami berdua. Bakri hanya diam mendengar saja celotehan ayah Wulan. Dari hasil keterangan itu, Bakri menyimpulkan bahwa Wulan fisiknya lemah dan tidak bisa capek. Jika keletihan bekerja, pasti Wulan sakit demam panas tinggi.
Bakri memahami dan menyanggupi keinginan ayah Wulan. Bakri sudah bertekad, Wulan harus ia miliki walau apapun kekurangannya. Tapi yang membuat Bakri risau, ayah Wulan memberikan 1 syarat jika ia ingin menyunting Wulandari. Bakri harus punya sepeda agar memudah Wulan untuk menuju suatu tempat. Sebab jika berjalan kaki, Wulan pasti keletihan dan jatuh sakit.
Dengan gaji yang pas-pasan, Bakri yakin dirinya tak bisa membeli sepeda. Lima tahun pun ia menabung, juga tak cukup membeli sepeda. Hancurlah dirinya jika tak bisa memenuhi keinginan ayah Wulan.
Wulandari juga menyadari, Bakri tak akan mampu memenuhi keinginan ayahnya. Diam-diam, Wulan bantu Bakri membeli sepeda dari hasil uang jajan yang diberikan ayahnya selama ini. Begitu pula, kedua orang tua Bakri, ikut menyisihkan hasil panen sayurnya untuk menambah uang membeli sepeda. Alhasil, sepeda itu terbeli berkat pengorbanan Wulan dan orang tua Bakri sendiri.
Akhirnya Wulan resmi menjadi isteri Bakri hingga mereka dikarunia anak 1 orang. Namun sayangnya, Wulan lebih dahulu di kembali pada Sang Pencipta ketika melahirkan anaknya yang pertama. Ketika proses persalinan, Wulan mengalami pendarahan yang banyak. Fisiknya yang lemah tak membantu perjuangannya melawan maut. Wulan meninggalkan Bakri dan anaknya untuk selamanya.
Sejak kepergian Wulan, Bakri terus menangis. Tak sempat ia membahagiakan Wulan yang telah banyak berkorban. Ia pertaruhkan harta dan nyawa demi untuk dirinya. Bakri berjanji tak akan menggantikan Wulan dengan orang lain di hatinya. Ia akan asuh seorang anaknya dan sepeda yang sangat bernilai di hatinya. Sampai saat ini, anaknya itu menjadi dosen salah satu perguruan tinggi. Sepeda tuanya merek Gazele itu sampai kini masih ia rawat seperti ia merawat Wulan kekasih hatinya. Kemana-mana ia bawa sepeda itu, seakan-akan ia berjalan bersama Wulan. Itulah sebabnya ia disapa dengan pak Sepeda, sebab ia merasa ia tidak bisa dipisahkan dengan sepeda tuanya.
*Penulis, Alumnus SMA Negeri 1 Medan, Alumnus dan Dosen UMA, Alumnus Pascasarjana USU Medan.
Rabu, 10 Maret 2010
”Sepeda sebagai Alat Moda Transportasi Jarak Pendek”
Seperti di Jakarta misalnya, kita sering melihat orang-orang yang bekerja berangkat mengayuh sepeda menuju kantornya masing-masing. Para anggota Bike to Work Indonesia misalnya, ada beberapa faktor yang mendorong mereka menggunakan sepeda sebagai sarana tranportasi menuju tempat kerja mereka. Polusi udara di Jakarta yang sudah sedemikian parah salah satunya.
Polusi di Kota Jakarta sudah sangat parah, begitupun dengan kota-kota di sekitarnya meskipun tidak separah di Jakarta. Seperti kita ketahui bersama Jakarta merupakan salah satu kota dengan polusi udara terparah di dunia. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor seperti asap kendaraan bermotor yang volumenya sangat tinggi dan pembakaran sampah, asap-asap dari cerobong pabrik, belum lagi sangat kurangnya lahan hijau di Jakarta.
Dengan kondisi kota kita yang demikian parahnya dengan polusi yang sudah dalam tingkat membahayakan, ada baiknya kita membantu mengurangi polusi yang ada salah satunya dengan cara menjadikan Sepeda sebagai Alat Moda Transportasi Jarak Pendek .Jika tempat kerja kita tidak terlalu jauh atau masih dapat di tempuh dengan bersepeda sebaiknya kita memakai alat transportasi yang menyehatkan ini. Sebenarnya kalau kita menyadari berangkat kerja dengan bersepeda banyak manfaatnya. Yang dapat kita rasakan langsung tubuh kita menjadi lebih sehat dan bugar sehingga kita menjadi lebih fit saat bekerja. Di samping mengurangi polusi udara serta membantu penghematan BBM dalam negeri ternyata bersepeda juga menyenangkan apalagi di waktu pagi saat kita berangkat kerja. Terlebih lagi jika kita bersepeda beramai-ramai seperti yang di lakukan oleh para anggota Pecinta Sepeda di Indonesia..
Setiap harinya Mulai banyak orang berangkat kerja dengan bersepeda meskipun bisa ditempuh menggunakan sarana transportasi lain. Yang pasti kita akan merasakan , kita jadi lebih bersemangat untuk bangun pagi, mandi dan sarapan, setelah itu berangkat kerja.
Menyusuri jalan raya yang ramai dengan bersepeda terkadang ada kebanggaan tersendiri. Mungkin karena kita merasa telah membantu mengurangi polusi udara sekaligus ingin memasyarakatkan bekerja dengan bersepeda. Yah.. meskipun belum seberapa, terlebih lagi bila kita sudah melewati salah satu jalan raya yang tidak terlalu ramai dilewati kendaraan. Di sisi jalannya terdapat bangunan bersejarah terdapat pohon-pohon besar serta tanaman hijau yang selalu terawat. Hal ini membuat sepanjang jalan tersebut tampak asri dan teduh sehingga terasa segar saat bersepeda melewati jalan tersebut.
Saat pulang kerjapun terkadang kita merasa senang dan masih bersemangat meskipun rasa capek dan lelah sudah menyelimuti. Di tengah keramaian motor, angkot, kendaraan pribadi, truk, bus dan lainnya kita merasa enjoy aja dengan bersepeda. Terkadang ada beberapa titik kemacetan jika sudah sore, tapi dengan bersepeda kita bisa nyelip sana nyelip sini walau terkadang kita merasa pusing juga dengan kemacetan, tapi tak apa karena memang sudah jadi rutinitas sehari-hari.
Sepeda merupakan kendaraan yang efisien, menyehatkan, tidak menimbulkan polusi dan harganya juga terjangkau tidak heran kalau di Cina dan Belanda sebagian besar masyarakatnya berangkat kerja dengan bersepeda. Bahkan di dua negara tersebut terdapat jalur khusus sepeda sehingga lebih aman dalam bersepeda. Terutama di Belanda di negara ini terdapat tempat penyewaan dan penitipan sepeda yang murah, aman dan nyaman. Bentuk sepedanya pun beragam sehingga semakin menambah asyiknya bersepeda ke tempat kerja.
Hmm, kira-kira di Indonesia kapan ya.. bisa seperti itu. Saya sebagai pecinta sepeda tentu sangat berharap suatu saat bisa menikmati apa yang di rasakan para pekerja di dua negara tersebut. Selama tempat kerja kita tidak terlalu jauh atau masih dapat di tempuh dengan sepeda, tidak salah kan saya mengajak kita semua menggunakan sarana transportasi yang satu ini. Dan semakin banyak orang yang bekerja bersepeda semakin besar pula kemungkinan terealisasinya jalur khusus sepeda.
Bravo untuk pecinta sepeda.
Senin, 08 Maret 2010
Si Romo Penggemar Ontel
Pagi itu aku sudah tidak dapat tidur lagi, kemudian aku mulai menyetel pesawat TV untuk lebih menyengarkan pikiran ini sambil bangun dan mulai menyiapkan sepeda yang akanku pergunakan nanti, setelahku pilih sepeda merk Gazele dan mulaiku lap sepeda biar kelihatan sedikit Kinclong, dan juga kubawa beberapa kunci untuk perlengkapan sepeda nantinya dijalan siapa tau ada gangguan, setelah itu tas sepeda jugaku isi dengan satu botol air mineral, setelah sepeda aku siapkan, ternyata anak dan istriku juga bangun karena mendengar suara brisikku mengelap sepeda, istriku bertanya ada apa sepagi ini menyiapkan sepeda, laluku katakan, tadi Romo dari lubuk Pakam telp di mintanya kita jangan berangkat diluan, oh jawab istriku,….tapi sepeda kami juga disiapkan la….sambil melempar senyumnya yang khas padaku, laluku jawab ya jangan takut boss kita siapkan, tapi siapa saja yang ikut tanyaku,…dan istriku menjawab ya semuanya ….laluku siapkan juga sepeda untuk anak anaku dan istriku, setelah Gazele selesaiku lap, lalu kusiapkan lagi sepeda Reliqht jantan dan betina untuk anak dan istriku, sedang istriku menyiapkan sarapan pagi untuk kami berupa teh manis dan beberapa potong roti yang memang telah ia siapkan tadi malam, selesai mandi dan sholat subuh, sepeda kukeluarkan dari rumah danku letakan dihalaman rumah satu persatu, yang jumlah sepeda tersebut ada 5 buah, sambil menunggu Romo yang akan datang dari Lubuk Pakam, tepat pukul 06.30 wib Romo tiba dirumah dengan pakaian khasnya Topi Demang mengunakan baju stelan Belanda celana pendek krim tak lupa ia kenakan kaca mata khasnya, setelah sampai di rumah kami suguhkan minuman dan makanan ringan ala kadarnya kepada Romo, sambil menunggu teman teman dari DESA (Deli sepeda antiq) yang sudah bergerak dari pasar 10 Tembung menuju lapangan Merdeka, dan nantinya akan melintas di depan rumahku, tepatnya pukul 06.45 wib rombongan DESA tiba didepan rumahku bersama rombongan berjumlah 20 orang yang dipimpin oleh Nizam sebagai ketua Rombongan , kemudian melanjutkan perjalanan menuju lapangan Merdeka Medan untuk bergabung bersama teman teman yang lain, kalau kami berkumpul dilapangan Merdeka bisa mencapai sampai lebih dari 150 orang pengemar yang terdiri dari kaum ibu dan bapaknya, yang namanya berkumpul pasti ramai ceritanya dan yang pasti tetntang perburuan barang barang sepeda antiq pokoknya seru sekali bahkan ada yang tukaran barang pernak pernik hiasan sepeda, seperti lampu dan kelengkapan lainya. Tepat pukul 07.30 wib biasanya saya sering mengkomandai teman teman untuk keliling kota Medan sambil singgah di gedung gedung bersejarah dan berfoto sejenak untuk melengkapi dokumen Ontel kami.
Mengais sepeda Ontel memiliki kepuasan tersendiri. Selain manfaat yang diberikan seperti baik untuk kesehatan, tidak berpolusi dan hemat energi, bersepeda berarti melestarikan warisan leluhur. Di Indonesia, sepeda banyak dipengaruhi oleh kaum penjajah, terutama Belanda. Mereka memboyong sepeda produksi negerinya untuk dipakai berkeliling. Kebiasaan tersebut menular pada kaum pribumi berdarah biru. Beragam sebutan diberikan untuk sepeda lawas tersebut seperti onthel, jengki, kumbang dan sundung. Kalau jengki itu berasal dari bahasa betawi, jingke atau berjinjit artinya pada saat menaiki sepeda tersebut kita harus berjinjit saking tingginya. Kalau ontel artinya di ontel atau di kayuh. Meski popularitas sepeda mulai hilang tergilas keberadaan sepeda motor dan kendaraan beroda 4, Aku yakin sepeda akan selalu eksis bahkan dapat dijadikan alat transportasi alternatif non polutan, setiap jum,at saya selalu naik sepeda Ontel ke Kantor saya ,dan sepeda Ontel cocok dipergunakan bukan hanya di Medan tetapi kota besar seperti Jakarta dan sebagai kenderaan alternatif .(Safwan Khayat).
Minggu, 07 Maret 2010
Apakah anda mengetahui berapa harga Sepeda Onthel ...! Bisa Mencapai Puluhan Juta
Sepeda Ontel yang selalu dikatakan sepeda tua yang banyak dikunjungi di tempat loak ini ternyata bukan sembarang besi karatan biasa seperti yang kita duga selama ini.
Harga sebuah sepeda Ontel bervariasi. Untuk harga standar murah di sekitar anda bisa menemukan dengan harga Rp.500.000. Tapi jika mencari dengan jenis, dan merk terkenal seperti 'Gazelle' anda perlu merogoh kocek lebih besar, sekitar puluhan juta....?.
"Kemarin teman saya ada yang beli Rp 17.5 juta merknya Gazelle," ujar salah seorang teman yang mengerti dan menghargai sepeda Ontel.
Harga jual yang tinggi untuk Ontel ini sendiri dikarenakan sepeda tua ini sudah tidak diproduksi lagi di Pabrik pusat di Eropa. Ditambah sepeda Onthel termasuk barang langka, kalaupun kita menemukannya kita selalu memperoleh sebuah sepeda yang sudah tidak lengkap lagi Spar Partnya (onderdilnya berlainan).
Pada awalnya sepeda ini diproduksi pada awal Revolusi Industri di Inggris. Kemudian diperkenalkan ke Indonesia mulai 1900an.
"Tahun 1818 di Eropa sejak awal revolusi Onthel mulai diproduksi, terus masuk ke Indonesia sama VOC awal abad 20an . Tapi anda jangan salah menilai dulu, walaupun umurnya cukup tua Onthel tetap kokoh untuk ditumpangi. Menurut sejarahnya, rangka besi yang menopang sepeda tua ini dibuat dari besi yang sama untuk membuat senapan dan meriam perang, besi yang bercampur baja.
Pada saat berhentinya perperangan, maka pabrik senjata tidak lagi memproduksi senjata, maka pabrik membuat sepeda untuk kebutuhan transportasi, dan semakin lama produksi sepeda semakin berkembang.
Ternyata selain unik dan langka, Onthel juga mempunyai nilai sejarah yang tinggi. Wajar saja harganya mahal. Anda tertarik untuk membeli? Atau sekedar ingin mengenal lebih jauh tentang Ontel mari bergabung bersama kami setiap hari minggu pagi jam 07.00 wib dilapangan Merdeka Medan Sumatera Utara depan Bank BCA......kami tunggu ya.
Sabtu, 06 Maret 2010
Setitik Darah, Hanya Untuk Sepatu Sekolah
Tak jauh dari bibir sungai Deli, berdiri sebuah rumah berukuran 6 x 15m dengan ornament eksterior kombinasi kayu dan batu, dipagari kayu bambu yang mulai lapuk serta beberapa tanaman hias nyaris tak terurus oleh pemiliknya. Disitulah Timpal Tarigan seorang pengemudi angkutan kota (Angkot) tinggal bersama isterinya boru Nasution dan sepasang anak (laki-perempuan) belahan hati mereka. Tarigan di bulan ini genap berusia 55 tahun, sedangkan isterinya 8 bulan lagi genap berusia 41 tahun. Usia yang terpaut 14 tahun ini tak menjadi penghalang bagi mereka dalam membina rumah tangganya. Justru, dengan kedewasaan Tarigan, mampu membimbing istrinya untuk memahami keterbatasan dirinya. Tarigan agak terlambat menikah. Sepasang belahan hati baru berusia 12 tahun dan 9 tahun. bukan saja lambat menikah, tetapi beliau juga terlambat mendapat karunia anak dari Tuhan.
Kehidupan Tarigan berjalan normal saja. Ia bekerja dan tekun beribadah. Setiap pagi belum bekerja mengemudi Angkot, isterinya selalu menyiapkan sarapan pagi dan kebutuhan dirinya. Di mulai dari secangkir kopi, sepiring nasi, sebatang rokok dan handuk kecil yang terus berganti setiap hari. Semua dilakukan isterinya dengan penuh ikhlas, cinta dan rasa abdinya kepada suami. Walau ekonomi pas-pasan, tapi Tarigan seorang ayah yang bertanggungjawab.
Tutur bahasanya yang khas keras tak berarti hatinya keras. Justru di mata boru Nasution, Timpal Tarigan seorang pria yang menarik, jujur, bertanggungjawab dan sayang dengan keluarga. Kedua anaknya, kerap bermanja-manja pada saat Tarigan sudah pulang kerja. Rasa capek hilang, rasa kesal buyar manakala ia bersama anak-anaknya berkumpul bercanda. Padahal, setoran angkot sering kurang, tapi kebahagiaan bersama keluarga mengalahkan persoalannya di pekerjaan.
Di suatu malam tepat pukul 22.15 WIB, Tarigan bercerita kepada istrinya bahwa besok Angkotnya mau di sewa untuk membawa rombongan perpisahan anak sekolah SLTP Negeri. Menurut rencananya, rute perjalanan di mulai dari halaman sekolah menuju lokasi taman hiburan dan rekreasi di Brastagi Tanah Karo. Sewanya lumayan, bisa buat setoran 2 hari dan sisanya bisa beli sepatu sekolah anak.
Isteri mengaguk setuju, dan semoga suaminya mendapat rezeki bisa beli sepatu sekolah anaknya. Sebab, sudah 3 tahun anaknya tidak ganti sepatu, apalagi tapak sepatu sekolah anaknya sudah berkali-kali dijahit alias tambal sulam. Begitulah rencana Tarigan andaikan besok ia mendapat rezeki dari sewa Angkotnya.
Tepat pukul 6.00 WIB, Tarigan sudah siap berangkat kerja. Mesin Angkot sudah dipanasi, sarapan pun sudah dilahap habis, kopi secangkir sudah kering, rokok sebatang tinggal busanya saja. Artinya, aktifitas sebelum bekerja semuanya sudah ia jalani di pagi itu. Sebelum kerja, isterinya menciumi tangannya dan anak-anak di ciumi pipinya. Sikap seperti biasa dilakukan ketika hendak berangkat kerja.
Tarigan pun mengambil kunci kontak dan langsung menghidupkan mesin angkotnya. Isteri dan anak melepas beliau di depan pintu rumah yang berukuran kecil tadi. Sambil melepas bekerja, si anak melambai tangan kepada ayahnya dan Tarigan menyambut lambaian tangan belahan hatinya. Tarigan berkata; Ayah kerja dulu ya ? Ia Ayah, hati-hati ? jawab anaknya. Pagi itu berjalan normal saja. Tak ada hal-hal yang luar biasa, karena Tarigan dan keluarga hanyalah orang biasa-biasa saja.
Singkat cerita, Tarigan membawa rombongan pelajar SLTP Negeri itu ke Brastagi. Perjalanan penuh asyik, canda tawa dan akrab. Mereka tiba kembali ke kota Medan tepat pukul 18.45 WIB. Diperjalanan tidak ada hambatan yang berarti. Seluruh perjalan lancar nyaris tak ada gangguan atau kendala. Setelah tiba, seluruh pelajar turun dan perjanjian sewa Angkot-pun dilunasi.
Tarigan sangat senang, gembira dan tersenyum lebar. Ia memperoleh rezeki yang lumayan hari ini. Ia berniat besok tidak narik dulu, sebab ia sudah berjanji mau beli sepatu sekolah anaknya.
Tarigan pun pulang dan langsung tancap gas. Sambil menyetir mobil tak urung sambil bernyanyi sebuah lagu yang sedang popular. Tentu saja lagu itu tidak lain adalah lagu anak medan. Tak sadar, Tarigan menekan gas Angkot-nya dengan kecepatan tinggi. Malam itu hujan sedikit lebat, jalanan licin dan sunyi. Tarigan tak perdulikan itu karena larut dalam luapan kegembiraan. Ia ingin cepat sampai di rumah. Karena syahwat kegembiraannya, Tarigan hilang kontrol diri mengemudi Angkotnya. Lobang-lobang di jalanan ia lalui saja, lampu merah dipersimpangan ia terobos dan safety belt tak dipakai.
Ketika mendekati rumahnya, ada simpang tiga yang selama cukup rawan kecelakaan. Tanpa basa basi, Tarigan sosor saja Angkot-nya, dan akhirnya, prakk…!! drum..!! Bunyi suara benturan yang cukup keras hingga mengejutkan warga sekitar. Angkot itu berbenturan keras dengan sebuah mobil Kijang Inova G yang datang kecepatan tinggi juga. Tubuh tarigan terpental keluar dan kepalanya menghantam kaca depan. Tubuhnya remuk redam, tulang lunglai dan darah mengalir deras.
Warga segera menolong Tarigan yang mulai kehilangan banyak darah dilarikan ke rumah sakit. Isteri dan anaknya betapa kaget dan shock mendengar musibah ini. Mereka langsung menuju rumah sakit menjenguk Tarigan sedang berjuang dengan maut. Untuk menyelamatkan jiwanya, trasfusi darah harus segera dilakukan. Persediaan darah di rumah sakit sangat terbatas. Stock yang ada juga tak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk Tarigan.
Darah isterinya tak sesuai dengan Tarigan. Berbagai upaya isterinya mencari donor bantuan, tapi usaha itu sia-sia. Sebab masih sedikit para pendonoh darah yang ikhlas memberikan darahnya. Tarigan butuh sangat butuh darah, sebab hanya itulah jalan yang bisa menyelamatkannya.
Salah seorang anaknya berusia 9 tahun memiliki golongan darah yang sama dengan Tarigan. Tapi anak itu masih terlalu kecil dan belum pantas untuk mendonor. Si anak terus menangis dan pasrah. Bathinnya terus berdoa semoga ayahnya selamat dari maut. Ia masih belum sanggup kehilangan ayahnya.
Tak disadari si anak berkata pada ayahnya dengan polos dan lugu. Ayah, ambillah darah ku ini untuk ayah. Aku siap mati memberikan darah ku demi sebuah sepatu sekolah. Andaikan ayah mati kehabisan darah, semua ini ayah lakukan demi sepatu sekolah, maka aku pun ikhlas menggantikan dengan darah ku demi kau bisa beli sepatu sekolah.
Tarigan hanya bisa mendengar sayup-sayup suara anaknya, karena seluruh tubuhnya tak berdaya. Akhirnya Tarigan menghembuskan nafas terakhir. Ia kehilangan banyak darah demi sepatu sekolah.
Menangislah isteri dan anak-anaknya ditinggal pergi selamanya oleh seorang ayah yang berjuang sampai darah terakhir demi sepatu sekolah. Andaikan ada stock darah, mungkin Tarigan bisa diselamatkan. Lalu si ibu berkata kepada anaknya; Nak, Jika kalian sudah dewasa, donorkan darah kalian untuk kemanusiaan. Sebab, setitik darah menjadi perjuangan demi sepatu sekolah bagi yang lain.
*PENULIS, Alumnus SMA Negeri-1 Medan, Alumnus dan Dosen UMA, Alumnus Pascasarja USU Medan. Website; http;//Selalukuingat.blogspot.com. Email; safwankhayat@yahoo.com
Kamis, 04 Maret 2010
Hobby Baruku Sepeda Tua.
Apa bila kita mendengar perkataan sepeda tua, maka dalam bayangan di pikiran kita, akan terlintas sebuah sepeda yang karatan, yang selalu berada di desa atau sebuah perkampungan yang dikenderaai oleh seorang bapak tua dengan rambut ubanan dan berpakaian sedikit kumuh.
Sekitar dekade 1960-an hingga 1970-an, penampilan seseorang bisa diukur dari sepeda yang mereka naiki. Jika mereka naik sepeda merek Reliq dan bertopi garbus ala cowboy, langsung bisa ditebak bila dia berstatus sosial tinggi atau orang kaya.
Kala itu yang biasa memakai sepeda Reliq , Northon, Gazele, Simplek, Fongres, atau Gimbar muncul dari kalangan orang berduit. Mereka biasanya Mandar Kebun, mandor tebu, sinder tebu, dan kalangan atas berpenghasilan besar.
Dengan bunyi sepeda yang khas, cek…cek…cek, memang lain dengan sepeda biasa. Kerangka sepeda juga memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan sepeda model sekarang. Potongan lebih kukuh, baik sepeda laki-laki maupun wanita. Pada jok tepat duduk menggunakan bahan kulit tebal dan setang melengkung ke belakang. Mereka yang menggunakan sepeda itu untuk zaman sekarang barangkali sama dengan kendaraan roda empat sekelas Toyota Inova atau Fortuner.
‘’Dahulu bila tak sekelas majikan atau juragan, tak bakalan naik sepeda mahal lantaran sepeda motor belum begitu banyak,'’ papar Pakde (50), Ketua sepeda Ontel yang selalu berada di Lapangan Merdeka Medan.
Harga Bervariasi
Rusli alias Barus, pedagang sepeda Ontel Medan di Jalan Halat mengungkapkan, harga sepeda kuno bervariasi mulai dari Rp 500.000 sampai tertinggi Rp 15 juta. Tapi bila ada juga yang masih bagus dan semua onderdil orisinil bisa Rp20 juta. Yang unik dari sepeda tua itu, pemilik umumnya membiarkan cat sepeda dalam bentuk orisinil. Perangkat lampu, bos (baterai), dan sadel (jok) tetap dibiarkan seperti kondisi awal.
‘’Meski warna cat diubah menjadi lebih mulus tak akan mendongkrak harga,'’ papar Abeng temanya Barus dilapangan Merdeka Medan di sela sela acara kumpul rutin setiap Minggu pagi.
Imam Safei salah seorang pengemar Ontel . bercerita tentang sepeda kunonya. Tiga puluh tahun silam, naik sepeda merek Gazele yang waktu itu menjadi incaran orang berduit. Karena saking gagahnya bersepeda mahal waktu itu, dia bisa memboncengkan gadis kembang desa ditempat tinggalnya dan sekarang gadis desa itu telah menjadi Istrinya saat ini..
Kendati kini menjadi barang langka, onderdil sepeda merek kuno masih bertebaran. Sayang, kualitas onderdil keluaran baru kurang baik. Selain kekuatan beda jauh, barang baru krumnya cepat kusam. Untuk mengetahui sepeda tua itu orisinil atau tidak, mereka melihatnya dari nomor seri, dan cap atau lebel pada bagian depan kerangka. Cap itu tak bisa dipalsu, makin kuno tahun pembuatannya makin jadi kejaran pemburu barang antik.
Salah seorang yang gemar mengoleksi sepeda tua adalah Safwan Khayat. Lelaki paruh baya ini sebetulnya mampu membeli motor atau mobil, tapi sepeda tua setia menemani dalam keseharian. Dia menganggap bersepeda tua memiliki nilai tersendiri. Seakan ada kesejukan batin dan bisa mengenang sang Ayah yang juga penggemar sepeda.
Rabu, 03 Maret 2010
Sepeda Ontel
Sepeda Ontel nasibnya seprti benda benda sejarah lainnya. ,,sama2 mau punah, padahal dulu ni sepeda dimiliki oleh kalangan-kalangan tertentu aja loh ga semua kalangan bisa memiliki ni sepeda!
Sejarah sepeda bermula di dataran Eropa. Sekitar tahun 1790, sebuah sepeda pertama berhasil dibangun di Inggris. Cikal bakal sepeda ini diberi nama Hobby Horses dan Celeriferes.
Keduanya belum punya mekanisme sepeda zaman sekarang, batang kemudi dan sistem pedal. Yang ada hanya dua roda pada sebuah rangka kayu. Bisa dibayangkan, betapa canggung dan besar tampilan kedua sepeda tadi. Meski begitu, mereka cukup menolong orang-orang – pada masa itu – untuk berjalan. Penemuan fenomenal dalam kisah masa lalu sepeda tercipta berkat Baron Karl Von Drais.
Von Drais yang tercatat sebagai mahasiswa matematik dan mekanik di Heidelberg, Jerman berhasil melakukan terobosan penting, yang ternyata merupakan peletak dasar perkembangan sepeda selanjutnya. Oleh Von Drais, Hobby Horse dimodifikasi hingga mempunyai mekanisme kemudi pada bagian roda depan. Dengan mengambil tenaga gerak dari kedua kaki, Von Drais mampu meluncur lebih cepat saat berkeliling kebun. Ia sendiri menyebut kendaraan ini dengan nama, Draisienne. Beritanya sendiri dimuat di koran lokal Jerman pada 1817.
Proses penciptaan selanjutnya dilakukan Kirkpatrick Macmillan. Pada tahun 1839, ia menambahkan batang penggerak yang menghubungkan antara roda belakang dengan ban depan Draisienne. Untuk menjalankannya, tinggal mengayuh pedal yang ada. James Starley mulai membangun sepeda di Inggris di tahun 1870. Ia memproduksi sepeda dengan roda depan yang sangat besar (high wheel bicycle) sedang roda belakangnya sangat kecil. Sepeda jenis ini sangat populer di seluruh Eropa. Sebab Starley berhasil membuat terobosan dengan mencipta roda berjari-jari dan metode cross-tangent. Sampai kini, kedua teknologi itu masih terus dipakai. Buntutnya, sepeda menjadi lebih ringan untuk dikayuh.
Sayangnya, sepeda dengan roda yang besar itu memiliki banyak kekurangan. Ini menjadi dilema bagi orang-orang yang berperawakan mungil dan wanita. Karena posisi pedal dan jok yang cukup tinggi, mereka mengeluhkan kesulitan untuk mengendarainya. Sampai akhirnya, keponakan James Starley, John Kemp Starley menemukan solusinya. Ia menciptakan sepeda yang lebih aman untuk dikendarai oleh siapa saja pada 1886. Sepeda ini sudah punya rantai untuk menggerakkan roda belakang dan ukuran kedua rodanya sama.
Namun penemuan tak kalah penting dilakukan John Boyd Dunlop pada 1888. Dunlop berhasil menemukan teknologi ban sepeda yang bisa diisi dengan angin (pneumatic tire). Dari sinilah, awal kemajuan sepeda yang pesat. Beragam bentuk sepeda berhasil diciptakan. Seperti diketahui kemudian, sepeda menjadi kendaraan yang mengasyikkan.
Di Indonesia, perkembangan sepeda banyak dipengaruhi oleh kaum penjajah, terutama Belanda. Mereka memboyong sepeda produksi negerinya untuk dipakai berkeliling menikmati segarnya alam Indonesia. Kebiasaan itu menular pada kaum pribumi berdarah biru. Akhirnya, sepeda jadi alat transpor yang bergengsi.
Pada masa berikutnya, saat peran sepeda makin terdesak oleh beragam teknologi yang disandang kendaraan bermesin (mobil dan motor), sebagian orang mulai tertarik untuk melestarikan sejarah lewat koleksi sepeda antik. Rata-rata, sepeda lawas mereka keluaran pabrikan Eropa. Angka tahunnya antara 1940 sampai 1950-an. Dan mereka sangat cermat dalam merawatnya.
Di masyarakat kita, sepeda lawas itu dikenal dengan beberapa sebutan, seperti ontel, jengki, kumbang dan sundung. Kalau jengki itu kan asalnya dari kata jingke (bahasa Betawi, artinya berjinjit), jadi waktu naiknya kita harus berjingke saking tingginya. Kalau ontel, ya artinya diontel atau dikayuh.
tuh dulu sepeda ontel banyak kegunaan dan fungsinya! Mari kita lestarikan lestarikan Sepeda ontel ni diIndonesia,,agar dunia tau kalo Indonesia sangat menghargai sejarah, pada saat ini kami para pengemar sepeda Ontel, setiap hari minggunya berkumpul di Lapangan Merdeka Kota Medan, kalau kumpul rutin lebih kurang 150 pengemar sepeda ontel, yang setiap minggunya selalu berkeliling bareng, mengintari kota Medan, sekelaigus memperkenalkan Ontel kepada masyarakat di kota Medan, dan bahkan sepeda kami ini sering mengiringi Pengantin, dan juga Selalu di pajang di Hotel hotel mewah Dikota Medan sebagai alat Aksesoris, untuk menambah kesan menariknya, namun saat ini sudah mulai sulit untuk mendapatkan sepeda Ontel yang lengkap yang orsinil, maka itu rekan rekan rekan pengemar ontel selalu mengadakan perburuan Ontel ke pingiran kota Medan.
Sepeda Jaman Belanda
Salah satu benda sejarah kita, namanya sepeda Ontel…..!
Sepeda Ontel nasibnya seprti benda benda sejarah lainnya. ,,sama2 mau punah, padahal dulu ni sepeda dimiliki oleh kalangan-kalangan tertentu aja loh ga semua kalangan bisa memiliki ni sepeda!
Sejarah sepeda bermula di dataran Eropa. Sekitar tahun 1790, sebuah sepeda pertama berhasil dibangun di Inggris. Cikal bakal sepeda ini diberi nama Hobby Horses dan Celeriferes.
Keduanya belum punya mekanisme sepeda zaman sekarang, batang kemudi dan sistem pedal. Yang ada hanya dua roda pada sebuah rangka kayu. Bisa dibayangkan, betapa canggung dan besar tampilan kedua sepeda tadi. Meski begitu, mereka cukup menolong orang-orang – pada masa itu – untuk berjalan. Penemuan fenomenal dalam kisah masa lalu sepeda tercipta berkat Baron Karl Von Drais.
Von Drais yang tercatat sebagai mahasiswa matematik dan mekanik di Heidelberg, Jerman berhasil melakukan terobosan penting, yang ternyata merupakan peletak dasar perkembangan sepeda selanjutnya. Oleh Von Drais, Hobby Horse dimodifikasi hingga mempunyai mekanisme kemudi pada bagian roda depan. Dengan mengambil tenaga gerak dari kedua kaki, Von Drais mampu meluncur lebih cepat saat berkeliling kebun. Ia sendiri menyebut kendaraan ini dengan nama, Draisienne. Beritanya sendiri dimuat di koran lokal Jerman pada 1817.
Proses penciptaan selanjutnya dilakukan Kirkpatrick Macmillan. Pada tahun 1839, ia menambahkan batang penggerak yang menghubungkan antara roda belakang dengan ban depan Draisienne. Untuk menjalankannya, tinggal mengayuh pedal yang ada. James Starley mulai membangun sepeda di Inggris di tahun 1870. Ia memproduksi sepeda dengan roda depan yang sangat besar (high wheel bicycle) sedang roda belakangnya sangat kecil. Sepeda jenis ini sangat populer di seluruh Eropa. Sebab Starley berhasil membuat terobosan dengan mencipta roda berjari-jari dan metode cross-tangent. Sampai kini, kedua teknologi itu masih terus dipakai. Buntutnya, sepeda menjadi lebih ringan untuk dikayuh.
Sayangnya, sepeda dengan roda yang besar itu memiliki banyak kekurangan. Ini menjadi dilema bagi orang-orang yang berperawakan mungil dan wanita. Karena posisi pedal dan jok yang cukup tinggi, mereka mengeluhkan kesulitan untuk mengendarainya. Sampai akhirnya, keponakan James Starley, John Kemp Starley menemukan solusinya. Ia menciptakan sepeda yang lebih aman untuk dikendarai oleh siapa saja pada 1886. Sepeda ini sudah punya rantai untuk menggerakkan roda belakang dan ukuran kedua rodanya sama.
Namun penemuan tak kalah penting dilakukan John Boyd Dunlop pada 1888. Dunlop berhasil menemukan teknologi ban sepeda yang bisa diisi dengan angin (pneumatic tire). Dari sinilah, awal kemajuan sepeda yang pesat. Beragam bentuk sepeda berhasil diciptakan. Seperti diketahui kemudian, sepeda menjadi kendaraan yang mengasyikkan.
Di Indonesia, perkembangan sepeda banyak dipengaruhi oleh kaum penjajah, terutama Belanda. Mereka memboyong sepeda produksi negerinya untuk dipakai berkeliling menikmati segarnya alam Indonesia. Kebiasaan itu menular pada kaum pribumi berdarah biru. Akhirnya, sepeda jadi alat transpor yang bergengsi.
Pada masa berikutnya, saat peran sepeda makin terdesak oleh beragam teknologi yang disandang kendaraan bermesin (mobil dan motor), sebagian orang mulai tertarik untuk melestarikan sejarah lewat koleksi sepeda antik. Rata-rata, sepeda lawas mereka keluaran pabrikan Eropa. Angka tahunnya antara 1940 sampai 1950-an. Dan mereka sangat cermat dalam merawatnya.
Di masyarakat kita, sepeda lawas itu dikenal dengan beberapa sebutan, seperti ontel, jengki, kumbang dan sundung. Kalau jengki itu kan asalnya dari kata jingke (bahasa Betawi, artinya berjinjit), jadi waktu naiknya kita harus berjingke saking tingginya. Kalau ontel, ya artinya diontel atau dikayuh.
tuh dulu sepeda ontel banyak kegunaan dan fungsinya! Mari kita lestarikan lestarikan Sepeda ontel ni diIndonesia,,agar dunia tau kalo Indonesia sangat menghargai sejarah, pada saat ini kami para pengemar sepeda Ontel, setiap hari minggunya berkumpul di Lapangan Merdeka Kota Medan, kalau kumpul rutin lebih kurang 150 pengemar sepeda ontel, yang setiap minggunya selalu berkeliling bareng, mengintari kota Medan, sekelaigus memperkenalkan Ontel kepada masyarakat di kota Medan, dan bahkan sepeda kami ini sering mengiringi Pengantin, dan juga Selalu di pajang di Hotel hotel mewah Dikota Medan sebagai alat Aksesoris, untuk menambah kesan menariknya, namun saat ini sudah mulai sulit untuk mendapatkan sepeda Ontel yang lengkap yang orsinil, maka itu rekan rekan rekan pengemar ontel selalu mengadakan perburuan Ontel ke pingiran kota Medan.