Pak De bersama Rombongan

Pak De bersama Rombongan
Pada acara Car Free Day jalan Gatot Subroto Medan.
Terima kasih kepada semua para sahabat yang telah mau membuka Blog ini, mari kita lestarikan sepeda Ontel sebagai alat Silaturahmi diantara kita, sampaikan kepada semua sahabat lainya, kami siap membantu mencarikan onderdil/spar part Ontel yang dibutuhkan bagi penggemar sepeda Ontel.

Yuk ber Ontel Ria

Yuk ber Ontel Ria
Si Eneng sedang ber Ontel Ria

Kamis, 04 Maret 2010

Hobby Baruku Sepeda Tua.

Naik Sepeda Tua
Apa bila kita mendengar perkataan sepeda tua, maka dalam bayangan di pikiran kita, akan terlintas sebuah sepeda yang karatan, yang selalu berada di desa atau sebuah perkampungan yang dikenderaai oleh seorang bapak tua dengan rambut ubanan dan berpakaian sedikit kumuh.
Sekitar dekade 1960-an hingga 1970-an, penampilan seseorang bisa diukur dari sepeda yang mereka naiki. Jika mereka naik sepeda merek Reliq dan bertopi garbus ala cowboy, langsung bisa ditebak bila dia berstatus sosial tinggi atau orang kaya.
Kala itu yang biasa memakai sepeda Reliq , Northon, Gazele, Simplek, Fongres, atau Gimbar muncul dari kalangan orang berduit. Mereka biasanya Mandar Kebun, mandor tebu, sinder tebu, dan kalangan atas berpenghasilan besar.
Dengan bunyi sepeda yang khas, cek…cek…cek, memang lain dengan sepeda biasa. Kerangka sepeda juga memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan sepeda model sekarang. Potongan lebih kukuh, baik sepeda laki-laki maupun wanita. Pada jok tepat duduk menggunakan bahan kulit tebal dan setang melengkung ke belakang. Mereka yang menggunakan sepeda itu untuk zaman sekarang barangkali sama dengan kendaraan roda empat sekelas Toyota Inova atau Fortuner.
‘’Dahulu bila tak sekelas majikan atau juragan, tak bakalan naik sepeda mahal lantaran sepeda motor belum begitu banyak,'’ papar Pakde (50), Ketua sepeda Ontel yang selalu berada di Lapangan Merdeka Medan.
Harga Bervariasi
Rusli alias Barus, pedagang sepeda Ontel Medan di Jalan Halat mengungkapkan, harga sepeda kuno bervariasi mulai dari Rp 500.000 sampai tertinggi Rp 15 juta. Tapi bila ada juga yang masih bagus dan semua onderdil orisinil bisa Rp20 juta. Yang unik dari sepeda tua itu, pemilik umumnya membiarkan cat sepeda dalam bentuk orisinil. Perangkat lampu, bos (baterai), dan sadel (jok) tetap dibiarkan seperti kondisi awal.
‘’Meski warna cat diubah menjadi lebih mulus tak akan mendongkrak harga,'’ papar Abeng temanya Barus dilapangan Merdeka Medan di sela sela acara kumpul rutin setiap Minggu pagi.
Imam Safei salah seorang pengemar Ontel . bercerita tentang sepeda kunonya. Tiga puluh tahun silam, naik sepeda merek Gazele yang waktu itu menjadi incaran orang berduit. Karena saking gagahnya bersepeda mahal waktu itu, dia bisa memboncengkan gadis kembang desa ditempat tinggalnya dan sekarang gadis desa itu telah menjadi Istrinya saat ini..
Kendati kini menjadi barang langka, onderdil sepeda merek kuno masih bertebaran. Sayang, kualitas onderdil keluaran baru kurang baik. Selain kekuatan beda jauh, barang baru krumnya cepat kusam. Untuk mengetahui sepeda tua itu orisinil atau tidak, mereka melihatnya dari nomor seri, dan cap atau lebel pada bagian depan kerangka. Cap itu tak bisa dipalsu, makin kuno tahun pembuatannya makin jadi kejaran pemburu barang antik.
Salah seorang yang gemar mengoleksi sepeda tua adalah Safwan Khayat. Lelaki paruh baya ini sebetulnya mampu membeli motor atau mobil, tapi sepeda tua setia menemani dalam keseharian. Dia menganggap bersepeda tua memiliki nilai tersendiri. Seakan ada kesejukan batin dan bisa mengenang sang Ayah yang juga penggemar sepeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar